Plagiat!
August 29, 2007
Satu hal yang paling bikin gw marah besar: PLAGIATOR! Mungkin karena gw suka baca buku, denger lyrics, baca puisi, denger musik, gw kagum banget sama yg namanya artis. Menurut gw mereka adalah orang-orang terhormat yang dengan bakatnya (walaupun mungkin kecil doang), make a difference in the world. Contohnya aja, W.R. Supratman, yg ngarang lagu Indonesia Raya. Lyricsnya sederhana aja. Melodinya pun simple, gampang dipelajari. Namun, saat lagu itu dinyanyikan dan kata2nya dihayati, semangat 45 langsung bisa terbakar. Menurut gw, di dalam kata2 tersebut, terkandung makna yang dalam banget, yang pas kita baca bener2 bisa menyentuh hati.
Gw paling kagum sama orang2 yang bisa merangkai kata2, sekaligus ngungkapin emosi mereka yang dalam lewat kata2 tersebut. Bahkan dengan bahasa yang sesimpel apapun, kata2 bisa menyentuh dan emosi bisa tersampaikan. Berasa banget sih, kalo baca puisi, atau cerita yang dibuat dengan bahasa2 “tinggi” tapi ga ada emosinya sama sekali. Menurut gw sih mendingan yg simpel2 aja, tapi pembaca ngerti apa yang disampaikan. =)
Nah, sekarang, saat ini, gw lagi agak2 marah sama beberapa oknum yang meng-klaim hasil karya orang lain sebagai hasil karya mereka pribadi. Kasus yg belakangan ini bikin marah: lagu “Boyfriend” Avril Lavigne, yang ternyata di-copy habis2an dari lagu lama. Demikian juga dengan improvisasinya. Udah gitu, gak ngaku lagi! Well, kalo urusan melodi, emang agak susah, karena beberapa nada yang catchy pasti bakalan mempengaruhi suatu lagu. So for Avril’s case… gw cuman bakalan blg: mungkin dia pernah denger melodynya somewhere, n terinspirasi dari situ. (walaupun ga ngaku) dan dia jg bukan artis yg gw segani.
Tapi bagaimana dengan orang yang ngopy lyrics atau kata2 habis2an? KELIATAN JELAS banget ga sih?
Emang bener, kalo suatu karya ga di-copyright-in, sah2 aja buat orang laen untuk copy. Tapi, yang gw ga tahan adalah kalo ada orang yang NGOPI hasil karya orang, NGAKUIN kalo itu KARYA DIA, dan masih SOK NGARTIS. Rasanya gw emang agak2 ga terima soal hal ini. Kalo emang ngopi punya orang, jangan sok ngartis kalee. Artists can lose their inspiration, but they cannot lose their ability. Kalo emang lagi vacuum ya vacuum aja, jangan ngopi2 punya orang laen demi “berkarya”.
Satu lagi, kata2 bisa dicuri. Emosi tidak bisa dicuri. Apa yang disampaikan oleh penulis yg pertama, ga mungkin bisa disampaikan oleh plagiator. Menurut gw, itu yang bikin barang2 hasil plagiat GA ADA NILAINYA.
Maaf kalo gw kedengeran harsh banget. But this kind of thing irritates me so much.
Indonesia’s Birthday!
August 18, 2007

Yay! Jumat kemarin, tanggal 17 Agustus 2007, Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke 62! Gak disangka, negara yang dulu masih memerangi kolonialisasi en penjajahan Belanda dan Jepang, sekarang sudah berumur. Well, untuk ukuran sebuah negara, emang 62 itu masih diitung muda, masih belum cukup dewasa. Selain belum dewasa, ternyata, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Perjuangan masih belum berakhir!
Bukan dengan bambu runcing lagi kita berjuang, tapi dengan hati nurani. Bukan manusia yang kita perangi, tapi kebusukan2 moral dan bibit2 Sodom dan Gomora (BBSG =P). Kalau dulu yang diperangi kelihatan, ada wujudnya, sekarang, yang kita perangi ga jelas wujudnya. Abstrak. Contoh: mental korupsi (dulu gw jg ternyata sering meng-korupsi saat lari pas pelajaran olah raga) dan mental suap menyuap (bahkan terjadi di sekolah2 kristen! tsktsktsk.. kalo mau masuk sekolah, bisa kasih “biaya” yg lebih gede untuk “pembangunan” sekolah).
Senjata untuk memerangi itu semua bahkan lebih ga berbentuk. Hati nurani? Are you kidding me? Di jaman yang serba cuek n “everything-for-my-own-benefit-mode:ON” ini, mana ada sih manusia yg pake hati nurani. Adanya, kalo kita pake, mana bisa bertahan hidup? Tergencet! Gak bisa hidup damai! Liat aja teman2 guru yg meninggikan kejujuran dari komunitas Air Mata Guru. Apa mereka dibela banyak orang? Engga! Lucu, sekarang cerita super heroes terbalik semua. Orang yang menegakkan kebenaran, malah ditindas, yang curang, malah dibela. Ada seorang teman yg pernah menulis demikian: “Kalau jadi orang baik itu gampang, mana ada orang yang mau jadi orang jahat!” Kalau pake hati nurani malah hidup ga damai, kenapa harus kita pakai?
Pertanyaan selanjutnya: apa itu hidup damai? Ikut2an arus, go with the flow? Mematikan hati nurani, saat kedamaian yang sebenarnya itu mulai terusik? Yang penting “damai” di luar, tapi ga damai di dalam? Apa kita terlalu fokus dengan apa yang kelihatan di luar, tapi ga memperdulikan peperangan yg terjadi di dalam diri kita sendiri?
Yoi, secara fisik, Indonesia ga ada musuh. Tapi menurutku, kita sama sekali belum bebas. Masih banyak “tawanan2 perang”, yang malah mengkhianati n bikin susah “pahlawan2″ yang mau menyelamatkan. Banyak orang yang sudah putus asa berjuang untuk Indonesia. Banyak pahlawan2 yang setelah digencet, cuci tangan, angkat kaki dari tanah tercinta. Banyak pahlawan2 yang mati (secara harafiah, maupun tidak) karena perjuangan2 menegakkan kebenaran.
Apakah kita juga malah ikutan menjadi “tawanan”?
Apakah kita membiarkan pahlawan2 itu mati sia2?
Apakah hati nurani kita udah ga sensitif lagi?
Apakah selama ini kita sudah capek mikirin tentang Indonesia, “kayaknya udah terlalu ancur deh” ?
Gw jg ga tahu mau melakukan apa untuk Indo saat ini. Tapi, kalo diberikan kesempatan suatu hari, gw mau, sangat2 mau untuk melakukan sesuatu untuk Indo, sekecil apapun itu. Kalo musuh kita adalah mentalitas yg bobrok, berarti kita harus ke gym rohani jg, jgn otot badan doang yg dilatih. Biar akal sehatnya jd sensitif =P Mungkin di umur 62, otot2 fisik dah ancur (apalagi belakangan ini banyak gempa n bencana alam), tapi semoga hati nurani terus jalan yah. Kalau orang bilang, yang dari dalam itu terpancar sampai ke luar. Walaupun muka keriput dan tua, kebahagiaan dan kedamaian dari hati pasti tetap kelihatan di wajah =)
Image by David Armstrong, taken from (http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/img/DavidArmstrong/merdeka.jpg)